Hanya ada biru dalam duniaku. Seperti langit dan laut. Dan aku bukan dua-duanya. Kau mengenalnya sebagai warna, dan aku memahaminya sebagai sebuah perjalanan. Birumu adalah aku yang berhasil kau paraphrase, dan biruku adalah apa yang kutebak dan kueja dari detik ke detik. Dan darimana aku harus memulai menerangkan birumu padamu dan biruku padamu, sedangkan aku hanya mengeja takdir, menjala nyata yang mengubur asa yang bahkan kadang tak lagi biru.
Biru ini sama, pada satu titik dimana keduanya adalah nama, yang mengacu kuat pada aku. Aku yang kita bahas. Yang kadang kau bilang biru laut, dan kubilang biru langit. Kita hanya menerjemahkannya dengan terminologi yang berbeda pada satu bahasa. Sedangkan mungkin pada kenyataan yang tak terbaca, semuanya tidak pernah benar-benar biru, tidak pernah seperti apa yang kita perdebatkan. Kita hanya perlu memahami, bahwa suatu saat mungkin salah satu dari kita, atau malah memang kita berdua, tak pernah benar-benar tahu. Maka yang perlu kita lakukan adalah menerima, karena toh semuanya hanya kerelatifan yang manusiawi.
Terlepas dari segala macam biru, laut, warna, perjalanan, aku hanyalah aku yang terus berusaha, mengimbangkan kembali semua hal yang terkadang terasa berat sebelah di pundakku. Seperti persahabatan yang entah akan menggelinding kemana jika tidak kujaga, dan untuk itulah aku terjaga. Aku tidak ingin menutup mata selama aku masih memiliki waktu yang bisa kumiliki. Karena tidak akan pernah ada yang tahu bagaimana cerita sebenarnya mengalir dan teralirkan, sebelum kita sampai pada halaman terakhir. Aku berusaha menjaga apa yang bisa kujaga. Melihat apa yang bisa kulihat. Mencintai apa yang telah kumiliki dan tanpa sadar juga kaumiliki.
Semuanya terasa tepat pada takarannya. Aku membumbuhi pahit pada apa yang terlalu manis dan memaniskan apa yang kadang terasa terlalu pahit. Mematikan apa yang tidak pernah benar-benar terbangun, sekaligus membangunkan apa tidak pernah benar-benar tertidur. Bukan berarti aku berhenti bermimpi. Tapi mimpi hanya membuatku semakin sulit terjaga untuk menjaga apa yang aku punya. Aku tidak mau terbangun dari mimpi dan menyadari bahwa apa yang kupunya telah lenyap tanpa pernah memberiku kesempatan untuk benar-benar melihat dan benar-benar memilikinya. Kata orang mimpi adalah bunga tidur. Tapi aku telah terjaga. Dan bunga telah mengering. Seharusnya ini waktunya menyemai, tapi aku terlalu takut apa yang kutanam tidak akan pernah tumbuh. Maka, lebih baik aku menyimpan bijinya. Menjaganya selalu dalam hatiku yang jauh.
Semuanya terasa baik-baik saja. Baik-baik saja dalam sudut pandang dimana pikiran tentang kemungkinan baik diharamkan. Baik-baik saja dalam luasnya penafsiran yang selalu berbatas pada keseimbangan yang masih harus terus terjaga. Baik-baik saja dalam igauan yang tersusun dalam sajak-sajak kehidupan yang semakin lelah. Baik-baik saja selama semuanya memang kurencanakan dan tidak kuharapkan. Baik-baik saja sampai kau mengusiknya.
Selama ini aku terjaga, terus membuka mataku. Tapi aku lupa mengingatkan diriku sendiri untuk tidak selalu mempercayai apa yang kulihat. Bahwa mata kadang menipumu dengan bayang-bayang. Kau seperti menyadarkanku bahwa apa yang kujaga selama ini bukanlah benar-benar milikku. Bahwa aku hanya memiliki separuh perasaan yang tidak pernah merasa lengkap. Mungkin hanya aku yang begitu ingin memiliki sesuatu untuk kujaga, tanpa pernah tahu apa yang bisa disimpan dan apa yang akan terus mengalir. Dan apa yang kau lakukan hanya membuatku semakin menyadari bahwa semuanya tidak pernah baik-baik saja.
Dengan baris-barismu yang menguasaiku seperti dongeng yang membuai, kau membuka semua batasan yang kugaris sesuai dosis yang takkan membuatku overdosis, tidak juga sakaw. Menabrak ribuan kemungkinan yang membuatku mabuk sekaligus jengah. Membuka semua tafsiran yang tak pernah terbaca dalam sempitnya keterjagaanku. Aku menjadi muak dengan keterjagaan yang sepertinya memerangkapku terlalu lama. Tapi aku juga tidak akan dengan bahagia meninggalkannya dan terlelap, bermimpi, membiarkan segala sesuatunya berjalan sebagaimana mestinya tanpa kutahu seperti apa alurnya. Tidak kecuali aku sudah merasa benar-benar lengkap dan tidak akan merasa sendirian menyadari kehilangan.
Semua yang berharga diperlakukan dengan cara yang berbeda dan tidak pernah disamakan dengan apapun. Atau, semua akan menjadi berharga jika diperlakukan dengan cara yang berbeda dan tidak pernah disamakan dengan apapun?
Aku pikir semuanya saling terlepas. Tapi aku salah. Aku pikir sudah cukup bersembunyi dalam kabut keterjagaanku selama ini. Tapi bagaimana pun aku tetaplah biru, yang selalu hanya ingin menjadi background. Menjadi lambang bagi hari yang cerah, tanpa pernah membiarkan dirinya menghitam terbakar matahari. Menjadi latar bagi persahabatan yang terukir di pantai pasir putih, yang kebersamaannya abadi di selembar foto dalam album kenangan.
Aku tetaplah harus naïf, selalu mengeja takdir, tapi harus berani merajut asa yang akan terjala dalam nyata.
Tapi bagaimana jika aku tidak siap dengan gelombang kemungkinan yang tidak pernah kupersilakan memasuki gerbang biruku? Dan sebenarnya, manakah yang lebih berharga bagiku? Keterjagaanku yang dengan sengaja kujaga ataukah biru yang tanpa sengaja kusembunyikan? Mungkin jawabannya bukan dua-duanya, karena selama aku berada pada kedua titik itu, yang aku cari adalah kebahagiaan menjadi latar bagi kebahagiaan bagi orang-orang yang berharga bagiku. Karena saat mereka membicarakan hari yang cerah, biru langit akan menjadi deskripsinya. Meskipun akan ada matahari, mereka akan tahu juga dimana tempat menemukannya. Dalam eksistensiku yang teralihkan. Dan saat album kenangan terbentang, biru laut akan menjadi tempat yang mereka rindukan. Meskipun akan ada rasa kehilangan saat waktu dan jarak menunjukkan tabiatnya, mereka akan tahu siapa yang tidak akan pernah berubah setelahnya, dan dia adalah birunya laut. Eksistensiku yang teralihkan. Tapi mungkin kali ini aku juga masih salah lagi.
Apapun yang akan menjadi jawabannya, kau tetap bagian yang terpenting dari semua kericuhan ini. Bukan saja karena kau yang membuka jutaan kemungkinan yang memaksaku berlari meski aku tahu mungkin aku akan jatuh. Bukan saja kerana kau yang membuatku menanyakan kembali apa yang lebih berharga dari apa yang berharga. Karena semuanya masih samar-samar dalam batas keterjagaan dan tidurku. Bukan saja karena kau yang membangunkanku dari keterjagaan yang menidurkanku terlalu lama. Tapi karena akhirnya kau mau peduli.
Sejak awal aku tahu apa yang diam-diam kuharapkan, diam-diam kusisipkan dalam doaku, seseorang akan menemukanku dan menarikku keluar dari cerita yang kususun dengan pecahan ketidakpastian yang bisa kupastikan. Tapi aku tidak pernah benar-benar mempercayai harapanku. Setidaknya tidak sampai saat ini.
Tidak mengejutkan juga jika kau yang berhasil peduli. Tapi kenapa harus kau jika kericuhan ini mungkin akan membuatku kehilangan semua hal yang berharga dan menjadi sama sekali tidak berharga. Mestinya aku merayakan saat menipisnya kabut ini dengan kehilangan yang sudah kuprediksikan dan akan kuikhlaskan. Tapi aku malah merayakannya dengan ketidakrelaan yang menjadi-jadi, saat menyadari di ujung salah satu titik itu, ada kau yang sepertinya akan mau peduli.
Kau datang dengan terlalu bertubi-tubi. Itulah pukulan yang kau bilang takkan kau berikan padaku. Kau terlalu banyak mengambil peran dalam kericuhan ini. Yang membuatku tidak bisa begitu saja ambruk setelah pukulanmu yang lagi dan lagi dan kembali duduk dalam posisi keterjagaan dengan air yang merembes dari mataku. Kau juga membuatku tidak begitu saja menunjukkanmu jalan keluar dan membiarkanmu keluar dengan pakaian kusut dan ketenangan yang tak tertandingi. Sekali lagi karena kau mengambil terlalu banyak peran dalam kericuhan ini. Kau hanya berhasil membuatku memikirkan segalanya, membuatku tidak bisa memikirkan hal lain, dan pada akhirnya membuatku tidak bisa menentukan, peran mana yang benar-benar kau inginkan. Saat ini, eksistensimu pun mungkin teralihkan. Yang aku tahu hanyalah kau cukup peduli padaku, entah untuk siapa, kenapa, dan sebagai siapa.
Samar-samar aku mengingat satu hal. Pada suatu ketika saat langit biru memucat dalam tenggelamnya senja, kau pernah bilang kau ingin menjadi udara. Mungkin aku akan bersenyawa denganmu. Menemukan eksistensiku yang bertaut dalam wujudmu. Tapi toh kita bukan udara, yang bebas mengalir dan berikatan.
Aku hanya memiliki tangan ini untuk menggapai. Maka jangan menuli, karena aku tidak punya cukup teriakan untuk membuatmu yakin. Aku hanya memiliki tangan ini untuk menjabatmu dan mencairkan jarak yang terasa membelenggu. Dan setelah itu mungkin kita akan benar-benar saling mengenal. Inilah kesepakatan yang kutawarkan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar